Hukum dan hikmah dibalik aqiqah

Tanya: Saya sering mendengar kalau seorang muslim memiliki anak laki-laki disembelihkan untuknya dua ekor sembelihan, sedangkan jika anak perempuan satu ekor. Apakah hal ini hukumnya sunnah atau wajib? Dan apabila hukumnya wajib, apa tujuannya? Dan bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkannya, dimana saya mendengar dari sebagian akhwat tentang perihal ini. Tapi sebenarnya saya belum mencari tahu akan kebenarannya.

Jawab: Segala puji hanya milik Allah. Pertama, hewan yang disembelih untuk bayi yang lahir disebut dengan aqiqah. Ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Sebagian mengatakan wajib, dimana yang lainnya berpendapat sunnah mu’akkadah.

Para ulama di Lajnah Da’imah (Lembaga Fatwa KSA) berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah sunnah mu’akkadah. Anak laki-laki (disembelihkan untuknya) dua ekor sesuai syarat hewan kurban. Dan untuk anak perempuan satu ekor. Disembelih pada hari ke tujuh. Apabila tidak sempat pada hari ke tujuh, maka boleh menyembelihnya pada waktu kapan saja. Dan tiada berdosa menundanya, hanya saja yang utama menyegerakannya semampunya. Hanya kepada Allah kita minta taufik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad dan keluarga beliau dan para shahabatnya.

Dan ada pendapat lemah yang ganjil mengatakan bahwa aqiqah hukumnya makruh. Ibnul Qayyim berkata, “Kata Imam Ahmad pada riwayat Hambal, “Telah dihikayatkan dari sebagian bahwa ada orang yang memakruhkannya karena aqiqah diantara perkara jahiliyah.” Imam Ahmad berkata, “Pendapat ini bersumber kepada kurangnya pengetahuan dan ilmu mereka tentang hadits. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri telah mengaqiqahi Hasan dan Husein dan para shahabat juga melakukannya, sedangkan orang-orang itu malah menjadikannya diantara perkara jahiliyah. Hukum aqiqah adalah sunnah dari Rasulullah, karena beliau bersabda, “Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya.” Sanad hadits ini bagus, diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Beliau juga berkata pada riwayat Al Atsram, “Berkenaan dengan aqiqah ini ada banyak hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan sanad yang bersambung, dan dari para shahabat beliau dan dari para tabi’in. Sedangkan orang-orang itu mengatakannya termasuk perkara jahiliyah. Imam Ahmad tersenyum heran.” Tuhfatul Maulud halama 45-46.

Kedua, adapun tujuan dari aqiqah bisa diketahui dengan menelaah makna dari sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengatakan, “Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya.” Para ulama berselisih tentang maknanya. Ada yang mengatakan apabila bayi tidak diaqiqahi kemudian meninggal dunia saat kecil dia dihalangi dari memberi syafaat kepada kedua orangtuanya. Ada juga yang mengatakan, bahwa aqiqah adalah sebab yang membebaskan si anak dari pengaruh setan dan melindunginya dari setan. Seorang anak mungkin luput dari suatu kebaikan disebabkan kelalaian kedua orangtuanya, meskipun bukan karena perbuatannya sebagaimana saat jima’ apabila kedua orangtuanya membaca bismillah setan tidak akan mencelakakan anak yang lahir darinya tapi apabila dia tidak membaca bismillah si anak tidak mendapatkan perlindungan dari setan seperti ini. Zaadul Ma’aad (2/325) Syarah Al Mumti’ (7/535)

Ketiga, adapun bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskannya, pada hadits-hadits berikut ini terdapat keterangan akan hal itu;

1- Dari Salman bin Amir Adh-Dhabbi dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Bersama dengan kelahiran bayi laki-laki ada aqiqah. Maka kucurkanlah untuknya darah dan singkirkan darinya kotoran.” HR Al Bukhari (5154)

2- Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan para shahabatnya atas anak laki-laki yang dilahirkan diaqiqahkan dengan dua ekor kambing yang sepantar dan untuk anak perempuan satu ekor. HR. At-Tirmidzi (1513), ia berkata, “Hasan shahih”. Dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (3163) dan dalam Shahih Tirmidzi (1221)

3- Dari Ummu Kurz ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang aqiqah. Beliau berkata, “Atas anak laki-laki dua ekor kambing, dan anak perempuan satu. Dan tidak mengapa kambing jantan atau betina.” HR At-Tirmidzi (1516) beliau berkata, “Hasan shahih” dan An-Nasa’i (4217), Abu Daud (2835), Ibnu Majah (3162) dan tambahan terakhir tidak terdapat pada Shahih Abu Daud (2460)

4- Dari Samurah bin Jundub dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau berkata, “Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan atas kelahirannya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.” HR. At-Tirmidzi (1522), ia berkata, “Hasan shahih” dan Ibnu Majah (3165) dan Shahih Ibnu Majah (2563)

Wallahua’lam.

Sumber: Islamqa

Categories: Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *